Side of My Life

Welcome

Pages

I Am

Featured Listings

Name*

Email*

Message*

We Share
// highlight-line

- Love like you've never lived before, and Write like you've lived forever- Enchantée-

  • Home
  • Feature
  • _Media
  • _Investigasi
  • Resensi
  • _Buku
  • _Film
  • Duniasastra
  • Ceritakita

Menikmati Rasa Bosan

(Tulisan berjudul asli "Seni Menerima Kebosanan" ini dibuat saat mengikuti ajang menulis inspirasi Genbi UIN Jakarta bertema "Belajar di rumah versi saya")

Rumah itu terletak di gang wijaya kesuma, posisinya di tengah, yang bercatkan hijau, pagarnya tinggi, dan dipenuhi dengan pamflet jualan, serta bernomorkan 13, angka yang diyakini kebanyakan sebagai “angka kesialan” . Inilah  tempat saya merebahkan diri dan pikiran selama masa pandemi.

Sebelum pandemi ini, saya layaknya anak muda kebanyakan yang senang menghabiskan waktu diluar. Haha.. tapi saya tidak berkawan banyak, tidak pandai bersosialisasi, tidak gaul seperti anak-anak tetangga pula. Teman dekat saya bisa dihitung jari, begitupun aktivitas wajib di luar rumah yang harus saya hadiri, kebanyakan malah karena inisiatif sendiri, nyari-nyari di sosial media, mana kegiatan yang bisa dikunjungi, untung-untung dapat pengalaman dan foto, tambah untung kalo dapat barang bawaan, walau sekantong makanan.

Sebelum ini pula, saya tengah mencoba lingkungan baru, magang di salah satu kementerian di republik ini. Kementerian Pemuda dan Olahraga, di bagian Deputi Pengembangan Pemuda dan Olahraga. Jangan tanya kerjanya apa, seorang mahasiswi jurnalistik semester 7 ini hanya mendapat bagian administrasi di sekretaris deputi, kerjanya hanya fotokopi dan mondar mandir lantai satu sampai sepuluh bawa lembaran-lembaran surat dan proposal.

Tapi saya senang bisa tahu putaran kerja pegawai negeri. Pagi-pagi datang cap jari di mesin fingerprint kemudian naik lift dan naro barang di meja kerja lalu ke dapur cari kopi atau teh. Kadang kalau belum sarapan, mereka minta tolong petugas kebersihan untuk beli beberapa kudapan subuh, kadang bubur, nasi uduk, tak lupa dengan gorengan. Makan di ruang kosong yang biasa dipakai tamu-tamu menunggu audiensi. Ketawa cekakak-cekikik menemani suasana pagi di gedung kementerian ini. Kalau sudah jam nya kerja, barulah mereka kembali ke bek masing-masing, dimulailah gunjingan tentang ini dan itu. Paling enaknya jadi anak magang, ada makanan ikut makan, ada gosip ikut dengar, ada proyek ikut kecipratan. Syukur-syukur kalau pulang dapat cecepan, sekedar makanan atau ongkos pulang, maklum magang tak berbayar disitu. Aahh... senangnya bernostalgia, kisah dua bulan lalu.

Semester ini tak banyak yang perlu saya kerjakan selain menyelesaikan skripsi. Tak banyak pula kerjaan yang saya lakukan selain jadi guru baca Qur’an di pesantren, itupun hanya seminggu empat kali. Datangnya Korona juga berimbas pada kami yang kerjanya masih sangat tradisional, mengandalkan tatap muka dan pulpen buat nulis catatan bacaan. Memendar harap dapat pekerjaan baru yang bisa menghasilkan walau 25-100 ribu, saya tebar CV dan portofilo lewat surel, tapi tak kunjung dapat jawaban.  Justru malah jadi boros, bosan selalu saja datang, dan berselancar gawai selalu jadi obat. Tabungan semakin menipis karena menghabiskan kuota lebih cepat dari biasanya. Padahal mama papa bilang, “hei bantulah kami selagi di rumah saja, bantu ke pasar, masak dan bebersih rumah, biar manfaat waktu luang mu!”, tetap saja saya abai untuk bergerak.

Karena gemar menonton film dan drama korea, kuota yang  saya beli setiap bulan selalu dimanfaatkan untuk unduh berbagai film keluaran baru. Bahkan film dan drama yang lawas di dalam dokumen leptop pun, tak lewat saya tonton kembali untuk menghabiskan waktu. Habislah saya lewati dua minggu pertama meringkuk depan leptop dan gawai, begadang lupa dengan waktu. Lalu, tak lama ramadhan datang, “aah.. sudah ramadhan kah ini?” heranku.

Apalagi yang bisa diperbuat selain itu. Merasa sangat jemu, saya mulai merapikan diri. Atur jadwal dan produktifitas sendiri. Beruntunglah kalau ramadhan saya penuhi dengan kegiatan manfaat, biar tak melulu kena omel mama dan papa. Saya mulai dengan menuliskan catatan kecil di stiky notes dan menempelkannya di cermin kamar, biar setiap pagi saat saya merapihkan rambut, saya baca dan ingat harus melakukan apa. Disitu tertulis, selesaikan proposal skripsi, persiapkan tes BTQ, Toefl dan Toafl (pra-syarat kelulusan sarjana), selesaikan tugas merapihkan website pondok, belajarlah Toefl minimal satu jam sehari, belajarlah design grafis minimal satu kali seminggu, bacalah buku minimal satu kali sebulan, carilah pekerjaan-pekerjaan tambahan. Aah hebatnya saya pikir kalau semua bisa saya lakukan rutin. Selepas Korona, saya akan siap matang hadapi ujian akhir. Bahkan dengan tambahan skill baru buat bekal cari pekerjaan.

Manusia memanglah manusia. Baru dua minggu rutinitas itu berjalan, saya kembali merasa jemu. “Aduh mak, bosan kali aku ini di rumah, apalagi yang bisa ku perbuat?” rengekku pada mama selepas sholat jamaah.  Selama di rumah saja, sholat jamaah memang selalu jadi rutinitas yang wajib saya sekeluarga lakukan, papa selalu berpesan “sholat jamaah 27 kali lipat pahalanya, hayo ke sorga bareng-bareng”. Gaungan nasihat itu berbunyi lima kali sehari, sudah melebihi anjuran minum obat. Tambah lagi masuk bulan ramadhan, pesan dan nasihatnya tambah panjang, “hayo ngaji, sholat sunnah ditambah, khatamkan al-qur’an, bagun sepertiga malam biar dapat lailatul qadar”.  Saya merasa kembali di kehidupan saya semasa mondok 10 Tahun silam, saat masih kelas 1 Tsanawiyah. Tapi, lagi-lagi bosan itu bertamu. Dan saya sadar ia meninggalkan sesuatu disana, membaca.

Ternyata, membaca jadi satu-satunya kegiatan yang tetap bisa saya lakukan walau bosan selalu datang. Saat saya membaca, saya rasakan otak dan imajinasi saya bebas melanglang buana. Indahnya, setiap waktu, punya bacaan-bacaan yang pas. Saat pagi sampai sore, saya suka baca buku-buku cerita, kadang novel, sejarah atau biografi. Saat malam, saya terbuai untuk baca buku-buku puisi. Nyamannya melebihi saat berselancar di sosial media. Saya merasa sangat menikmati waktu luang, tidak pusing memikirkan apakah rutinitas wajib yang saya tempel di cermin kamar sudah saya kerjakan atau belum.

Saya melepas setiap kepenatan dengan bait puisi dan alur cerita. Alinea demi alinea mengobati rindu untuk bermain di luar. Jadi teringat dengan salah satu ungkapan Bung Hatta, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”.  Aah.. rupanya beginilah rasanya dipenjara bersama buku.

Ungkapan ini sangat relevan dengan situasi kita saat ini. Bayangkan saja, sosial media kerap menampilkan informasi yang membuat pikiran kita lelah. Tentang prediksi ekonomi yang menurun, sulitnya masyarakat mematuhi aturan, kebijakan pemerintah yang tak karuan, atau kelakuan aneh netizen yang sengaja cari perhatian. Bayangkan lagi bila aktivitas kita menggunakan gawai bisa 20 jam dalam sehari, chat teman-teman sudah, telponan sudah, video call sudah, belajar online sudah, bermain gim sudah, belanja online sudah, lalu apa lagi?

Berbeda dengan membaca. Saat membaca kita bebas memilih tema yang kita mau, berimajinasi sesuka hati, bisa merenungkan makna paragraf demi paragraf, lalu mengambil saripati, atau bahkan mencatat tiap kata-kata indahnya. Pikiran dan hati kita dibebaskan melintasi waktu, zaman dan peristriwa untuk kemudian menghadirkan energi baru. Saya bahkan bisa menghasilkan banyak tulisan semasa pandemi ini. Sebagian tulisan itu saya publikasikan di blog, dan sebagian lagi saya simpan untuk koleksi pribadi.

Kita semua memang rindu untuk bertemu, bercengkrama, berpelukan seraya bercanda tawa, tak perlu memikirkan harus tutup muka dan cuci tangan setiap saat. Rindu saat udara dapat dengan bebas dihirup tanpa halangan selapis kain. Rindu suasana berhimpitan naik kendaraan umum sampai ketiduran. Rindu ini sudah seperti dendam rasanya. Dan bosan selalu datang untuk mengingatkan kerinduan ini.

Hal ini membuat saya belajar, sastrawan Eka Kurniawan pernah memeringati kita lewat bukunya “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” . Saat ini kita tengah belajar hal baru. Tapi kemudian bosan selalu datang memenuhi setiap cela, dan harus kita terima. Penerimaan itulah yang akan menguatkan kita, membawa kita pada esensi diri yang baru. Karena rutinitas yang biasa kita lakukan itu sejatinya tidak hilang, hanya diganti dengan model baru. Ritme ini pasti menciptakan rasa bosan. Rindu dan bosan bagaikan hukum aksi reaksi. Kita hanya perlu bergeser arah pandang sedikit. Karena dengan menerima kebosanan, kita belajar menuntaskan kerinduan.



Seminggu setelah mengirim tulisan ini, ternyata saya dinobatkan sebagai pemenang kedua tulisan inspiratif bertemakan belajar di rumah versi saya. Generasi Bank Indonesia (Genbi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai komunitas yang menaungi mahasiswa penerima beasiswa Bank Indonesia sekaligus penyelenggara kegiatan, menghadiahkan saya sebuah buku baru karya penulis ternama Andera Hirata. Buku ini nantinya akan saya resensi dan pastinya akan dipublikasikan di situs blog saya ini. Terimakasih nantikan tulisan lainnya yaah :)
  • 0 Comments


Ramadhan datangnya setahun sekali
Hanya satu bulan 30 hari, kadang 29 hari
Diisi dengan berbagai ritual, macam-macam kebajikan 
dan asih tiada henti

Bapak bilang "Khatamkan ngajimu kalo ramadhan, biar berkah!"
Bapak bilang "Perbanyak sholatmu, sunnah, wajib semua awal waktu 
biar berlipat pahalanya!"
Bapak bilang "Sering sering sujudkan kepalamu di sepertiga malam
biar dapat ganjaran seribu bulan!"
Bapak bilang " Perbanyak wiridmu, biar lekas masuk sorga!"

Tapi pak, kenapa hatiku bergemuruh?
Baru sedikit aku berderma, lekas buat status baru
Baru sedikit manfaatnya aktivitasku, lekas upload snap baru
Baru sedikit anjuran bapak ku lakukan, lekas puas hati rasa paling aman
Baru sedikit ku khatamkan Qur'an, lekas pula ku tanyakan adik kakak, 
sudah juz berapakah dirimu gerangan?

Pak, kenapa begitu?
Apakah Ramadhan sebenarnya begitu?
Mengapa saat semua ibadah ku perbuat, 
hatiku tak berpulang pada pangkuan?
Apakah Ramadhan itu?
Mengapa saat huruf ro, mim, dal, alif dan nun itu digaungkan
hatiku tak  merasakan getaran?

Pak, apakah aku tak jatuh hati pada Ramadhan?
Padahal hanya setahun sekali
Lailatul Qadarnya sekali
Puasa berturut 30 hari
Kebajikan dan kebahagiaan ada disana sini
Bapak selalu katakan nasihat yang sama 
tahun lalu dan tahun ini
Bapak bahkan gunakan alasan yang sama
saat aku lengah dan abai 



Sudahkah aku dapatkan ramadhan yang kau maksud, pak?
Atau, aku telah kehilangan ramadhan yang sesungguhnya, 
demi memenuhi maksud mu?


Pak, masihkah kita punya waktu? 



Reni jaya, 23 Mei 2020


  • 0 Comments

Celaka ketimpangan Gender di Tanah Mesir





“Saatnya telah tiba bagi saya untuk melepaskan butiran yang terakhir dari kebajikan, tetesan terakhir dari kesucian di dalam darah saya. Kini saya telah sadar mengenai kenyataan, mengenai kebenaran. Kini saya telah tau apa yang saya inginkan. Kini tak ada lagi ruangan untuk khayalan. Seorang pelacur yang sukses lebih baik daripada seorang suci yang sesat—Kini saya sadari bahwa yang paling sedikit diperdayakan dari semua perempuan adalah pelacur. Perkawinan adalah lembaga yang dibangun diatas penderitaan yang paling kejam untuk kaum wanita.” (hal. 126)

Novel ini menceritakan kehidupan perempuan yang berjuang melawan sistem patriarkat di Mesir ,Timur Tengah. Nawal dengan apik memulai alur cerita dengan sosok perempuan bernama Firdaus yang tampak tenang bahkan saat dirinya dinyatakan menerima hukuman mati. Saya ingin membagi kisahnya menjadi 3 fase, Firdaus kecil, saat menjadi yatim dan saat dewasa.

Firdaus kecil, perempuan berparas lokal, digambarkan ia tak begitu cantik dengan hidung malangnya yang besar. Ia cerdas jiwanya bebas, tapi selalu terkurung adat dan rutinitas tiada henti. Hidupnya serba kekurangan, ia bahkan tak tahu rasanya memegang uang. Sejak kecil ia hanya meyakini apa yang ia lihat dan ia rasakan. Ia selalu menyaksikan ibunya setiap hari dipukuli oleh sang ayah, sampai peristiwa kedua adiknya mati “seperti anak ayam” yang tergeletak dan tak terurus. Firdaus kecil begitu senang belajar. Pamannya yang sekolah di Al-Azhar, Kairo, kerap kali datang kerumahnya untuk mengajarkan Firdaus membaca. Sampai kemudian Firdaus menjadi yatim piatu, pamannya lah yang mengurus dan menyekolahkannya.

Firdaus yang yatim piatu, mengadu hidupnya dengan nasib perwalian. Mana ada seorang perempuan Mesir saat itu, yatim piatu yang disekolahkan dan menjadi pintar disia-siakan begitu saja. Dulu, semasa ia sekolah, pamannya adalah keluarga satu-satunya. Cinta bagi Firdaus. Lelaki ini pernah sampai memeluk dan menciumnya. Namun, diusia 19 Tahun, Firdaus justru dinikahkan dengan lelaki usia 60 Tahun yang cacat. Ia lelaki kaya, sangat ingin dihormati karena kekayaannya tetapi begitu kikir terhadap sesama. Naasnya, lelaki tua itu adalah mertua dari pamannya sendiri. Selama pernikahannya, Firdaus tak tahan dengan kehidupan yang tak lagi manusiawi. Firdaus memutuskan kabur dengan bermodalkan ijazah sekolah menengahnya.

Tapi, tak lama setelah kabur, ia justru terjerumus lagi. Firdaus bertemu laki-laki yang memiliki sebuah kedai pinggiran. Ucapan lelaki itu begitu manis. Rasanya, seakan-akan ia torehkan cinta pada hati Firdaus. Bahkan ia berjanji untuk membantu Firdaus mencari kerja dan tidak akan melukainnya. Kemudian semua seakan menguap seperti angin saat Firdaus berusaha untuk bebas dan mencari kerja. Kali ini, Firdaus tidak mau terbuai dan harus menderita dibawah tekanan pria yang sama saja dengan sebelumnya, sama sekali tak memiliki cinta baginya.

Kemudian ia lari. Lari untuk mencari lagi apa itu ‘hidup’. Sampai akhirnya, Firdaus bertemu sebuah jalan baru. Melalui seorang wanita yang tak dikenalnya, ia belajar menjadi pelacur dengan harga umum. Firdaus mungkin mendapatkan kehidupan yang lebih layak, walau tak mendapatkan cinta dan kebabasannya. Tapi, ia merasa tubuhnya bukan lagi miliknya. Tubuh itu layaknya mesin penghasil uang, bila ia tak tidur dengan pria semalam pun, ia takkkan mendapatkan uang. Kepercayaan Firdaus perlahan runtuh. Ia tahu bahwa selama ini hanya dimanfaatkan untuk bisa menghasilkan uang. Ia muak dan terombang-ambing di hamparan jalan, lelah. 

Firdaus dewasa, ia tahu, tak ada satupun orang yang percaya gelandangan punya ijazah sekolah menengah, atau perempuan dengan pakaian compang camping itu adalah manusia bermartabat. Tapi, perempuan yang memiliki uang kemudian bisa makan di tempat yang mahal, baru bisa mereka percaya dan hormati tanpa melihat pakaian dan parasnya sekalipun. ‘Aahh beginilah dunia’ baru saat itu dia sadar seakan berhasil menemukan kunci kehidupan. Akhirnya Firdaus kembali melacurkan diri dengan siapapun asalkan membayar dengan harga tinggi. Kehidupannya kini ada digenggamannya. Beragam pria kaya silih berganti mengajaknya tidur dan bermain tak hanya di rumah mewahnya, kadang pula di kapal pesiar.

Tapi lagi-lagi, Firdaus merasa janggal. Ia sudah kaya, punya kuasa atas tubuh dan kehidupannya, bahkan semua orang kini percaya ia memiliki ijazah sekolah menengah dan pintar. Tapi ternyata masih ada orang yang menganggapnya bukan manusia bermartabat, memandangnya dengan tatapan tidak terhormat. Ada yang salahkah dengan hidupnya? Firdaus tak tahu apa artinya terhormat. Apakah dengan menjalani kehidupan perempuan pada umumnya, maka semua orang akan memandangnya dengan hormat, atau menganggapnya manusia bermartabat?

Firdaus yang bermodalkan ijazah sekolah menengah akhirnya mencari kehidupannya yang baru, hidup selayaknya perempuan lain yang berkerja dan tidak tidur dengan bermacam-macam pria. Ia tinggal di sepetak rumah. Saat kehidupannya dianggap begitu normal dan sederhana, Firdaus menemukan cinta.

Pria kali ini begitu berbeda. Ucapannya dapat dipercaya banyak orang melampaui kepercayaan Firdaus pada penguasa negaranya. Ia begitu baik dalam sikap dan mimipi-mimpinya. Setidaknya ia tahu bahkan si pria juga memilki perasaan yang sama dengannya. Namun, seperti petir yang menyambar pohon disiang bolong, Firdaus dikhianati. Lelaki ini berpaling hanya dengan sogokan materi dan iming-iming penghidupan yang layak. Berubah 180 derajat setelah menikah dengan anak pemilik perusahaan. Hancur sudah kepercayaan Firdaus pada manusia bernamakan laki-laki.

Jika kita perhatikan, sejak awal, Nawal ingin kita menggarisbawahi makna ‘titik nol’. Keadaan dimana kita benar-benar berada di titik dasar kehidupan kita. Kehidupan Firdaus sejak awal selalu dilecehkan dan dikecewakan. Cinta pertamanya, cinta masa kecilnya, Muhammadain, mengajaknya  bermain pengantin-pengantinan ternyata bertujuan ingin menyentuh bagian intim tubuh Firdaus yang bahkan belum juga tumbuh. Ayahnya, rela memukul ibunya setiap malam, yang penting makan malamnnya tetap tersedia, tak peduli walau anak-anak membencinya. Pamannya, dengan gelagat mengajarinya membaca, berulang kali melecehkan atau mencumbu  Firdaus saat tengah tumbuh remaja sampai menjadi ditinggal kedua orang tuanya. 

Lalu dinikahkan di usia belia, dengan pria tua yang begitu dihormati, namun menutupi kikir, keras dan cacatnya dengan kekayaannya tersebut. Kemudian bertemu pria bermulut manis, Ibrahim, yang nyatanya hanya menginginkan sex tanpa memikirkan kehidupan yang layak. Pernah juga Firdaus berteman dengan seorang wanita, yang pada akhirnya hanya mementingkan kehidupannya sendiri tanpa memikirkan perasaan dan keadaan temannya, atas sesama perempuan. Sampai padanya seorang pria yang benar-benar membuat Firdaus jatuh cinta, nyatanya menutupi maksud liciknya dengan mimpi-mimpi revolusioner, sikap dermawan dan ucapan yang bisa dipercaya, justru tidak memerdulikan cinta. Firdaus terus menerus menancap pada titik dasar keadaan manusia terlahir, tak berdaya. 

Cerita dalam novel sebanyak 114 halaman ini terasa seperti kisah tiada henti berputar dikepala saya. Bagi Nawal,  Firdaus mungkin membuatnya malu dan merasa kerdil, merasa bahwa hidupnya saat ini sesungguhnya hanyalah kesalahan. Tapi menurut saya, tidak hanya itu, Firdaus juga membuat pembaca menyadari bahwa pencarian hidup yang sebenarnya bukan tentang belajar hingga pintar, kaya dan dermawan, penuh cinta dan kasih sehingga dikatakan sebagai manusia yang bermatabat, tapi menemukan titik dasar bahwa semua yang ada di dunia ini tak sempurna dan tak berdaya, hanya kehidupan yang kekal abadi yang sempurna. Kematian didunia ini, adalah jalan menuju kehidupan yang sebenarnya bagi Firdaus. seperti penggalan kalimat Firdaus dalam buku ini,

" Mereka tahu bahwa selama saya masih hidup mereka tidak akan aman, saya akan membunuh mereka. Hidup saya berarti kematian mereka, kematian saya berarti hidup mereka. Mereka ingin hidup. Dan hidup bagi mereka berarti semakin banyak kejahatan, perampokan, perampasan. Saya telah menang atas keduanya, kehidupan dan kematian, karena saya sudah tak lagi mempunyai hasrat untuk hidup, juga tidak lagi takut mati.” (hal.147)

Jika membaca buku ini, rasanya tidak akan ada perempuan yang kuat menahan sakit. Tidak hanya sakit pada tubuhnya, tapi juga hati dan pikirannya. Menerima tekanan dari kelompok mayoritas sampai hilangnya jati diri dan kehormatan, sosok Firdaus tetap gagah, tidak sekalipun bahkan menundukkan kepalanya walaupun ia tahu esok adalah kematiannya.

Novel ini memang banyak menuai perdebatan. Di negaranya sendiri, novel ini seakan menjadi ancaman bagi semua kaum lelaki.  Jika kita perhatikan secara historis, saat itu Mesir sudah menjadi modern, dengan nama Republik Mesir dan diperintah secara otokratis oleh tiga presiden selama enam dekade. Pertama, oleh Nasser dari tahun 1954 hingga kematiannya pada tahun 1970, kedua  Anwar Sadat dari tahun 1971 hingga pembunuhannya pada tahun 1981, dan ketiga Hosni Mubarak dari tahun 1981 hingga pengunduran dirinya dalam menghadapi revolusi Mesir di tahun 2011 [1]. 

Saat diterbitkannya novel ini, negeri piramida yang modern juga tengah menghadapi berbagai peperangan, nuansa patriarki masih begitu kuat, lekat secara struktur atau kultur masyarakat yang masih menomerduakan perempuan dalam aspek kehidupan. Perlawanan semacam ini menjadi catatan penting bagi Mesir. Perjuangan itu belum selesai, mengangkat hak-hak perempuan menjadi tanggung jawab bersama seluruh wanita. Tempo.co dalam catatanya di tahun 2013, menerangkan Mesir tergolong negara paling buruk dalam hal penerapan hak asasi perempuan di negara-negara Arab. Survei dilakukan Thomson Reuters Foundation terhadap lebih dari 330 ahli gender di 21 negara Liga Arab, termasuk Suriah, selama tiga tahun sejak Arab Spring pada 2011. Hasil survei itu menemukan fakta bahwa diskriminasi dan perdagangan perempuan merupakan faktor utama yang menyebabkan Mesir menempati urutan paling buncit di antara 22 negara Arab.


Data Buku

Terbitan Pertama             : 1975
Pengarang                        : Nawal El Saadawi
Jumlah halaman               : 114
Penerjemah                      : Sherif Hatata
Negara                             : Mesir
Penerbit                           : Yayasan Obor Indonesia
Tahun Terbit (Indonesia): 2002
Genre                              : Novel, Fiksi, Nonfiksi kreatif
Kategori                          : 17+
Rate by me                      : 9/10

Tentang Penulis


Nawal El Saadawi adalah seorang dokter bangsa Mesir. Ia terkenal di seluruh dunia sebagai novelis dan penulis pejuang hak-hak wanita. Karya novel yang kontroversial ini di angkat dari kisah nyata (non fiksi) hanya saja dibumbui dengan bahasa sastra oleh el-Saadawi. Tahun 1972 sebagai akibat diterbitkannya buku nonfiksinya yang pertama “Women and Sex”, ia dibebastugaskan dari jabatannya sebagai direktur dan juga sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Health. Dia adalah dokter pertama yang melawan pemotongan anak di bawah slogan agama-budaya. Buku-bukunya disensor di Mesir dan dia harus mempublikasikan di Lebanon. Pada tahun 1981 Nawal El Saadawi terbuka mengkritik kebijakan Presiden Anwar Sadat dan ditangkap dan dipenjarakan. Dia dibebaskan satu bulan setelah pembunuhan sang presiden. Nawal el-Saadawi sekarang bekerja sebagai penulis, psikiater dan aktivis. Her Novel terbaru adalah Zina, The Stolen Novel (2008).[2]




[1] https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_modern_Egypt

[2] Jurnal, “Nawal El-Sadawi: Membongkar Budaya Patriarki melalui Sastra”, oleh Umu Kulsum, Univeritas Islam Madura, 2017.



  • 0 Comments

Semua Hidup Ber(harga)

 

“Kita sangat beruntung bisa hidup, kita sangat beruntung bisa saling membantu, dalam hal kecil maupun besar. Kita beruntung, karena saling membantu itu membuat kita bahagia” – Katarina.


Pesan ini disampaikan Katarina (Kate) dalam pidato di adegan penampilannya bernyanyi bersama tim musik saat mengadakan perayaan malam natal bersama sekelompok tunawisma. Pesan singkat ini menjadi kesimpulan akhir yang indah sekaligus menampar kita semua untuk kembali mengingat kata “syukur”.

Diangkat dari kisah fiktif , perempuan bernama lengkap Kate Andrich (Emilia Clarke) berasal dari keluarga yang baik-baik saja awalnya. Gadis yang lahir dari keluarga imigran asal Yugoslavia mulai mengeluhkan hidupnya yang tidak karuan, sering berpindah tempat tinggal, tidak akur dengan bosnya dan renggang dengan keluarganya sendiri.

Katarina adalah sosok perempuan yang bebas, terkesan egois dan tak terkendali. Sejak kecil, ia percaya bahwa bakatnya dalam bernyanyi adalah kebahagiaan terindah yang ia punya, dan pastinya dia andalkan sebagai cita-citanya. Namun, penyakit yang membuat Katarina harus menjalani cangkok jantung, membuatnya mengalami perubahan 180 derajat jauhnya sebagaimana ia kecil dahulu.

Kemudian ia bertemu seorang pria baik dan menawan, Tom Webster (Henry Golding), yang tidak dikenalnya sama sekali. Bertingkah aneh dan bukan tipikal idamannya. Tapi, mereka saling tertarik. Awal mulanya, Katarina memang tidak begitu memerdulikan ucapannya, tapi semakin dia mendengarkan dan memerhatikan tingkah pria ini, obrolan mereka semakin akrab dan menyenangkan. 

Yang menarik dalam film ini adalah, awalnya sutradara membuat penonton merasa jalan cerita ini terkesan biasa dan tak ada bedanya dengan kehidupan kita sehari-hari, namun semua itu terpatahkan setelah Katarina sadar bahwa cintanya selama ini hanyalah khayalan. 

Semua adegan yang menggambarkan Katarina dengan Tom menjadi sangat nyata saat terulang tanpa kehadiran Tom. Khayalan, namun terasa nyata. Kondisi ini jelas sulit diterima penontonnya. Merasa sedih dan kecewa. Namun, sutradara menjelaskan alasan itu dalam adegan terakhirnya.

Secara medis, menurut hellosehat.com, diketahui setidaknya 25 hingga 45% anak yang berusia 3 sampai 7 tahun memiliki teman khayalan. Sebagian besar anak memiliki teman khayalan yang tidak nyata, namun sebagian lagi menganggap mainan seperti boneka adalah teman khayalannya. Dalam survei lain, ada sebanyak 51% dari 500 remaja di sebuah kampus di New Zealand menyatakan bahwa mereka masih mengingat teman khayalannya sewaktu kecil (Nicholson 2008). Mengapa teman khayalan bisa terjadi?

Menurut Alodokter.com kemenkes RI, gangguan yang memungkinkan anda memiliki teman khayalan selain skizofrenia misalnya maladaptive daydreaming (MD). MD terjadi ketika seseorang berkhayal terlalu ekstrim sehingga mempengaruhi secara negatif dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. MD sering dikaitkan dengan trauma masa lalu atau merasa tidak puas dengan kehidupan nyata. Bisa berciri-ciri ada keterikatan secara emosional dengan karakter dalam khayalannya, saat gejala muncul sulit untuk menarik diri ke kehidupan nyata, bisa menunjukkan emosi saat melakukan khayalan seperti tertawa, menangis dan tersenyum sendiri, melakukan gerakan konstan saat masuk dalam khayalan seperti menggigit kuku, mengetuk meja, dll, menarik diri dari lingkungan sekitarnya, dan biasanya berkaitan erat dengan musik.

Kondisi ini menurut saya, hanya menjadi jalan yang tepat dan masuk akal bagi sutradara untuk  menghidupkan kembali sosok Kate seperti sebagaimana ia kecil dulu. Katarina perlu hidup, dan hidup baginya saat itu adalah kesedihan, kepayahan dan kegagalan. Untuk menampilkan seorang pria yang datang bagaikan pangeran dengan segudang kemampuan yang mampu mengubah hidup Katarina adalah kisah klasik. Siapapun dapat menebak. Tapi menampilkan pria khayalan bisa menjadi twist yang menarik dan tak terduga terjadi pada siapapun dan dalam situasi yang berbeda-beda. Dan untungnya, kehadiran Tom membawa dampak yang lebih positif kedalam hidup Kate.




Hal menarik lainnya dari film ini adalah, saya takjub bahwa sutradara dan penulis berusaha menghadirkan visual singkat  yang padat nilai. Film yang disutradarai oleh Paul Feig itu terinspirasi oleh lagu dari duo asal Inggris, Wham!, dengan judul yang sama. Penulis naskahnya, Emma Thompson pernah diganjar piala oscar kategori Best Adapted Screenplay untuk film Sense and Sensibility (1995). 

Mereka mencoba memasukkan beberapa isu politik dan LGBT. Pemilihan aktor yang variatif tergambar dari berbagai macam ras dan suku yang dimunculkan, ada asia, afrika, eropa dll. Isu LGBT terlihat dari keluarga Kate, yakni adiknya Martha yang memiliki hubungan dengan Alba. Tetapi keluarganya menerima dengan sangat baik kenyataan tersebut . Ada berita mengenai Brexit, persoalan mengenai sikap antiimigran di Inggris pada masa itu, menjadi salah satu penyebab keretakan keluarga Kate. Walaupun nampaknya isu tersebut tidak terlalu menyatu dalam film ini.

Mereka juga menyisipkan isu kemanusiaan, dengan memilih sisi penampungan tunawisma yang membantu para tunawisma dan disabilitas untuk bertahan hidup. Ada pula menghargai setiap bantuan kecil, Kate berusaha membantu mengumpulkan uang dengan bernyanyi didepan penampungan. Belajar mengakui kesalahan dan meminta maaf.  Menegaskan nilai bahwa yang berharga itu bukan hanya mereka yang hidupnya merasa “normal atau berbakat” tapi mereka yang kenyataannya memang tidak normal dan tidak berbakat sekalipun, itu juga berharga. Sehingga, mereka akan ingat bahwa mereka beruntung untuk hidup dan bahagia. Dan kemistri Kate dan Tom menjadi perpaduan apik yang menonjol dalam film ini. 

Jika dihubungkan dengan kehidupan kita saat ini, maka dialog pidato Katarina yang saya tuliskan diawal review ini menjadi alasannya. Bagi saya, siapapun ingin hidup bahagia, tapi siapapun tak mungkin bahagia secara cuma-cuma. Jika hidupnya diberi kesempurnaan fisik, bisa jadi tak sempurna akal jiwanya, sempurna akal jiwanya, bisa jadi tak sempurna fisiknya. Sempurna akal, jiwa dan fisiknya, ternyata tak sempurna keberuntungan hidupnya. Sempurna akal, jiwa, fisik dan keberuntungan hidupnya, ternyata tak sempurna cintanya. Sempurna akal, jiwa, fisik, keberuntungan, cinta, ternyata pendek usia hidup didunianya. Bahkan yang benar benar tak sempurna dari segala sisi, ternyata punya waktu yang begitu panjang dalam hidupnya untuk bisa berkelana dan mencari makna “bahagia” lainnya.

Selama masa pandemi covid-19 ini, banyak hal kita lalui penuh penuh kejutan. Kesehatan mental menjadi pondasi untuk menjaga kesehatan fisik kita. Kita patut sadar, bahwa sampai detik ini kita masih sehat dan bertahan, adalah keberuntungan yang harus kita jaga. Menghadirkan bahagia dari keberuntungan-keberuntungan kecil adalah kebutuhan, bukan tuntutan. Itu yang kita butuhkan sebagai manusia yang hidup, bahwa kita bisa hidup adalah keberuntungan, dan keberuntungan itu harus menghadirkan kebahagiaan, baik untuk diri kita, atau sekitar kita. 

Data Film
Sutradara         : Paul Feig
Penulis             : George Michael (inspired by: the song "Last Christmas", written and composed by), Emma Thompson (story by)
Pemeran           : Madison Ingoldsby, Emma Thompson, Boris Isakovic, Emilia Clarke, Henry Golding, dll.
Rilis                  : 6 Desember 2019 ( Indonesia)
Durasi               : 1h 43min
Kategori            : 17+
Genre                : Comedy, Drama, Romance
Rate by me       : 8/10
 

  • 0 Comments

Where We Now

Where We Now
Indonesia

Follow Us

  • mithamasyithoh
  • mmitaaa_
  • MithaMasyithoh

recent posts

Labels

BELAJAR DARI CORONA BIOGRAFI BISNIS BISNIS MEDIA BISNIS MEDIA ONLINE ceritakita cerpen DISTRIBUSI duniasastra FILM Genbi UIN Jakarta GENDER INDONESIA INFORMASI JURNALISTIK kisahfiksi MEDIA MEDIA ONLINE MEDIA SOSIAL MESIR NAWAL EL-SADAWI ONLINE PANDEMI COVID-19 PEREMPUAN PEREMPUAN DI TITIK NOL PUISI RAMADHAN RESENSI RESENSI BUKU RESENSI FILM TOKOH PAHLAWAN

Blog Archieve

  • ►  2022 (1)
    • ►  April (1)
  • ▼  2020 (4)
    • ▼  June (1)
      • Menikmati Rasa Bosan (Tulisan berjudul asli "Se...
    • ►  May (3)
      • Puisi- Pak, Masihkah Kita Punya Waktu?
      • Celaka ketimpangan Gender di Tanah Mesir ...
      • Semua Hidup Ber(harga)   “Kita sangat...
  • ►  2018 (3)
    • ►  December (1)
    • ►  May (2)
  • ►  2017 (6)
    • ►  September (2)
    • ►  August (4)

Report Abuse

About Me

My photo
matapandaa98.blogspot.co.id
Depok, Jawa Barat, Indonesia
View my complete profile

Popular

  • Resensi Buku HOS Tjokroaminoto
    Resensi Buku HOS Tjokroaminoto
    GARIS PEMIKIRAN TOKOH BANGSA Siti Masyithoh   Identitas Buku Judul buku      : Tjokroaminoto- Guru Para Pendiri Bangsa ...
  • MEMBANGUN BISNIS MEDIA ONLINE
    MEMBANGUN BISNIS MEDIA ONLINE
    /www.streetgangs.com/pict   Pada era millenial,  peralihan model bisnis dunia menjadi perhatian sejumlah kalangan pembisnis ulun...
  • Puisi- Jalan Buntu
    aku mengais dalam dalam seluruh permukaan yg ada di semesta alam aku merauk dengan sigap menanti setiap kesempatan akan berakhir ba...
  • (no title)
    (no title)
    Menikmati Rasa Bosan (Tulisan berjudul asli "Seni Menerima Kebosanan" ini dibuat saat mengikuti ajang menulis inspirasi Genbi ...
  • Puisi- Pak, Masihkah Kita Punya Waktu?
    Ramadhan datangnya setahun sekali Hanya satu bulan 30 hari, kadang 29 hari Diisi dengan berbagai ritual, macam-macam kebajikan  d...

instagram

Created By ThemeXpose | Distributed By Blogger

Back to top